Loading...

Post

Mahasiswa dan alumni Universitas Syiah Kuala mengikuti pelatihan Hands-On Cooking One Dish Meal dengan praktik pembuatan mie saus dan spaghetti bolognese bersama instruktur di FKIP USK, Banda Aceh.
29 October 2026 admin Kegiatan

USK dan CCEP Indonesia Latih Mahasiswa Kembangkan Menu One Dish Meal, Praktik Langsung Mie Saus dan Spaghetti Bolognese

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia kembali melanjutkan rangkaian Program Bina Kuliner Nusantara 2026 melalui kegiatan Hands-On Cooking One Dish Meal, Kamis (29/10/2026). Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan keterampilan mahasiswa dan alumni USK dalam mengembangkan produk makanan siap saji yang praktis, berkualitas, menarik, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha kuliner.

Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Hands-On Cooking dan Estetika Produk Kuliner yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik langsung kepada para wirausahawan muda dalam meningkatkan keterampilan produksi, kreativitas pengolahan, dan inovasi penyajian makanan.

Pelatihan ini merupakan kelanjutan pembinaan terhadap peserta Program Bina Kuliner Nusantara 2026, yang terdiri atas mahasiswa aktif dan alumni USK dengan masa kelulusan kurang dari satu tahun yang mengembangkan usaha di bidang makanan dan minuman (food and beverage/F&B).

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Dra. Nurul Faudiah, M.Pd., dosen Departemen Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, sebagai narasumber sekaligus instruktur praktik pengolahan makanan.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi. Pada sesi pertama, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, peserta mengikuti praktik pembuatan one dish meal mie saus. Sementara itu, sesi kedua yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00 WIB difokuskan pada praktik pembuatan spaghetti bolognese.

Melalui pendekatan hands-on learning, peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari sekaligus mempraktikkan secara langsung teknik pengolahan kedua menu tersebut, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, pengolahan saus, hingga teknik penyajian makanan yang menarik dan memiliki nilai jual.

Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan konsep one dish meal, yaitu penyajian makanan dalam satu hidangan utama yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara praktis. Konsep ini memiliki peluang untuk dikembangkan dalam usaha kuliner karena dapat diterapkan pada berbagai pilihan menu, baik makanan lokal maupun internasional.

Pada sesi pertama, narasumber memberikan pembekalan mengenai teknik pengolahan mie saus, termasuk pentingnya keseimbangan cita rasa, pemilihan bahan baku, pengaturan tekstur, serta konsistensi hasil masakan.

Melalui praktik tersebut, peserta diarahkan untuk memahami bahwa pengembangan menu sederhana dapat menghasilkan produk kuliner yang memiliki daya tarik apabila didukung oleh pengolahan yang tepat, inovasi cita rasa, dan penyajian yang menarik.

Sementara itu, pada sesi kedua, peserta memperoleh pengalaman praktik pembuatan spaghetti bolognese sebagai salah satu menu yang dapat dikembangkan untuk memenuhi preferensi konsumen terhadap hidangan bergaya internasional.

Dalam praktik ini, perhatian diberikan pada teknik pengolahan pasta dan saus, keseimbangan komposisi bahan, serta penyajian makanan yang mampu meningkatkan daya tarik produk.

Narasumber juga menekankan pentingnya penerapan standar kebersihan, ketepatan proses pengolahan, dan konsistensi kualitas agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi ekspektasi konsumen.

Selain keterampilan memasak, pelatihan turut memberikan perhatian pada aspek estetika produk atau plating, yaitu teknik menata makanan agar terlihat lebih menarik, profesional, dan memiliki nilai tambah.

Aspek tersebut menjadi penting dalam pengembangan usaha kuliner modern, terutama ketika produk dipasarkan melalui media sosial, aplikasi pemesanan makanan, maupun platform digital lainnya.

Melalui praktik pembuatan mie saus dan spaghetti bolognese, peserta diharapkan mampu mengembangkan variasi menu makanan yang dapat diterapkan dalam usaha masing-masing, sekaligus memperkuat kemampuan menghasilkan produk dengan standar kualitas yang konsisten.

Kepala Subdirektorat Kewirausahaan USK, Dr. Evi Ramadhani, M.Si., menyampaikan apresiasi atas semangat dan konsistensi para mahasiswa serta alumni yang terus mengikuti rangkaian Program Bina Kuliner Nusantara 2026 hingga memasuki tahapan praktik pengolahan berbagai jenis makanan.

“Kami sangat mengapresiasi semangat dan antusiasme para peserta yang terus mengikuti rangkaian kegiatan Bina Kuliner Nusantara 2026. Setelah mendapatkan berbagai pembekalan mengenai manajemen bisnis, pemasaran, pengelolaan keuangan, negosiasi, serta praktik pengolahan makanan dan minuman, hari ini peserta kembali memperoleh keterampilan baru dalam mengembangkan menu one dish meal. Kami berharap seluruh pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk usaha mereka,” ujar Evi.

Menurutnya, pengembangan usaha kuliner membutuhkan kemampuan berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen, termasuk menghadirkan pilihan menu yang praktis, memiliki cita rasa yang baik, serta sesuai dengan perkembangan pasar.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu mengikuti tren kuliner, tetapi juga memiliki kreativitas untuk menciptakan menu yang memiliki ciri khas dan keunggulan tersendiri. Melalui praktik pembuatan mie saus dan spaghetti bolognese ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan ide-ide baru yang berpotensi menjadi produk unggulan dalam usaha mereka. Semangat belajar dan keberanian untuk terus mencoba merupakan modal penting bagi wirausahawan muda,” tambahnya.

Evi juga berharap agar seluruh peserta mampu menerapkan keterampilan yang telah diperoleh selama mengikuti rangkaian program pembinaan, sehingga hasil pelatihan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usaha mahasiswa dan alumni.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Ir. Wira Dharma, S.Si., M.Si., M.P., IPM., menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada CCEP Indonesia atas dukungan serta komitmennya sebagai mitra strategis Universitas Syiah Kuala dalam penyelenggaraan Program Bina Kuliner Nusantara 2026.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Coca-Cola Europacific Partners Indonesia atas dukungan dan kemitraan yang telah terjalin dengan Universitas Syiah Kuala. Melalui Program Bina Kuliner Nusantara 2026, mahasiswa dan alumni mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan, baik dalam aspek pengelolaan bisnis maupun keterampilan teknis produksi makanan dan minuman,” ungkap Wira.

Menurutnya, kolaborasi dengan dunia industri menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan kampus, khususnya dalam mempersiapkan mahasiswa untuk mampu menjalankan usaha yang profesional dan berkelanjutan.

“Kami ingin mahasiswa USK tidak hanya memiliki keberanian untuk memulai usaha, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memahami kebutuhan pasar, mengelola keuangan, serta menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Melalui kegiatan praktik langsung seperti ini, mahasiswa memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan dalam pengembangan bisnis mereka. Kami berharap kemitraan dengan CCEP Indonesia dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi mahasiswa dan alumni,” jelasnya.

Wira menambahkan bahwa penguatan kewirausahaan mahasiswa perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan pembelajaran yang aplikatif dan melibatkan praktisi maupun tenaga ahli dari berbagai bidang.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH.

Ia menegaskan bahwa Universitas Syiah Kuala terus berkomitmen mengembangkan ekosistem kewirausahaan yang mampu memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan kreativitas, serta menciptakan usaha yang memiliki nilai ekonomi.

“Universitas Syiah Kuala memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Program Bina Kuliner Nusantara 2026 sebagai bagian dari komitmen kami dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan mahasiswa. Kami ingin mahasiswa dan alumni tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, kreativitas, dan kemampuan berinovasi yang dapat menjadi bekal untuk membangun usaha secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Rina.

Menurutnya, pelatihan berbasis praktik langsung menjadi salah satu pendekatan yang relevan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan dunia usaha, terutama pada sektor kuliner yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan preferensi konsumen.

“Kami berharap seluruh peserta mampu memanfaatkan kesempatan ini untuk terus meningkatkan kualitas produk, mengembangkan inovasi menu, dan memperkuat kemampuan bisnis mereka. Kolaborasi USK dan CCEP Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana sinergi perguruan tinggi dan dunia industri dapat memberikan manfaat langsung bagi pengembangan kewirausahaan mahasiswa. Semoga program ini mampu melahirkan wirausahawan muda yang berdaya saing dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian Aceh,” tambahnya.

Pelatihan Hands-On Cooking One Dish Meal merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Program Bina Kuliner Nusantara 2026 yang telah dilaksanakan secara bertahap sejak 16 Oktober 2026.

Pada tahap awal, peserta memperoleh pembekalan mengenai penguatan mental kewirausahaan, strategi pemasaran, serta validasi keunggulan produk melalui analisis kompetitor dan segmentasi pasar bersama narasumber dari CCEP Indonesia.

Selanjutnya, pada 19 Oktober 2026, peserta mengikuti Pelatihan Akselerasi Digital yang berfokus pada fotografi dan videografi produk menggunakan smartphone, desain poster, digital branding, serta pembuatan konten promosi.

Pada 20 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan keterampilan pengelolaan usaha yang meliputi literasi keuangan, perhitungan biaya produksi (food costing), strategi penetapan harga, pengelolaan hubungan pelanggan, dan pencatatan keuangan berbasis aplikasi.

Kemudian, pada 21 Oktober 2026, peserta mengikuti pelatihan pemasaran digital yang mencakup optimalisasi media sosial, content marketing, pemanfaatan marketplace, iklan digital, serta evaluasi kinerja pemasaran.

Pada 22 Oktober 2026, pembinaan dilanjutkan dengan pelatihan komunikasi profesional, strategi negosiasi bisnis, serta penyelesaian konflik melalui simulasi dan studi kasus.

Memasuki tahapan praktik produksi, pada 26 Oktober 2026, peserta mengikuti Hands-On Cooking dan Estetika Produk Kuliner bersama Chef Ridwan Chery, Executive Chef Hermes Palace Hotel, yang membahas standardisasi resep, teknik pengolahan dasar, dan estetika penyajian makanan.

Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti Hands-On Cooking Beverage bersama Yuli Heirina Hamid, S.Pd., M.Si., melalui praktik pembuatan empat menu minuman kreatif, yaitu Es Cocomelasi, Pinapaya Milky, Grape Jelly Bliss, dan Milkshake Es Dawet Fusion.

Selanjutnya, pada 27 Oktober 2026, peserta mengikuti pelatihan Hands-On Cooking Frozen Food bersama Dra. Zuraini Mahyiddin, M.Pd., dengan praktik pembuatan tekwan dan pempek sebagai produk makanan beku yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha kuliner.

Pada 28 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Hands-On Cooking Bakery bersama Laili Suhairi, S.Pd., M.Si., melalui praktik pembuatan roti tawar dan roti manis.

Memasuki Kamis (29/10/2026), rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan Hands-On Cooking One Dish Meal bersama Dra. Nurul Faudiah, M.Pd., yang berfokus pada praktik pembuatan mie saus dan spaghetti bolognese.

Rangkaian pembinaan tersebut menunjukkan bahwa Program Bina Kuliner Nusantara 2026 tidak hanya menekankan penguatan keterampilan pengelolaan usaha, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kemampuan produksi, kreativitas pengembangan menu, konsistensi kualitas, dan estetika penyajian produk kuliner.

Melalui pelatihan yang terintegrasi, Program Bina Kuliner Nusantara 2026 diharapkan mampu melahirkan wirausahawan muda USK yang memiliki kompetensi bisnis secara menyeluruh, mulai dari kemampuan manajerial, pemasaran digital, literasi keuangan, komunikasi bisnis, hingga keterampilan produksi makanan dan minuman yang berkualitas, inovatif, dan berdaya saing.

Kolaborasi Universitas Syiah Kuala dan CCEP Indonesia ini sekaligus mempertegas pentingnya sinergi perguruan tinggi dan dunia industri dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat kewirausahaan mahasiswa dan alumni, serta mendukung pengembangan UMKM kuliner dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Aceh.

Bagikan: