USK dan CCEP Indonesia Latih Mahasiswa Produksi Frozen Food Tekwan dan Pempek melalui Program Bina Kuliner Nusantara 2026
BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia kembali melanjutkan rangkaian Program Bina Kuliner Nusantara 2026 melalui kegiatan Hands-On Cooking Frozen Food, Selasa (27/10/2026). Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan keterampilan mahasiswa dan alumni USK dalam mengembangkan produk makanan beku (frozen food) yang berkualitas, praktis, inovatif, dan memiliki potensi pasar.
Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Hands-On Cooking dan Estetika Produk Kuliner yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik langsung kepada wirausahawan muda dalam menghasilkan produk makanan dan minuman yang memiliki nilai tambah.
Pelatihan ini merupakan kelanjutan pembinaan terhadap peserta Program Bina Kuliner Nusantara 2026, yang terdiri atas mahasiswa aktif dan alumni USK dengan masa kelulusan kurang dari satu tahun yang mengembangkan usaha di bidang makanan dan minuman (ood and beverage/F&B).
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Dra. Zuraini Mahyiddin, M.Pd. sebagai narasumber sekaligus instruktur praktik pengolahan makanan beku. Peserta mendapatkan pembekalan dan pengalaman langsung mengenai teknik pengolahan produk frozen food, khususnya tekwan dan pempek, yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk usaha kuliner.
Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi. Pada sesi pertama, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, peserta mengikuti praktik pembuatan frozen food tekwan. Sementara pada sesi kedua, pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pengolahan frozen food pempek.

Melalui pendekatan hands-on learning, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami proses pengolahan makanan secara langsung bersama narasumber, mulai dari pengenalan bahan, teknik pengolahan, pembentukan produk, hingga penyajian dan estetika makanan.
Dalam sesi pembuatan tekwan, peserta diarahkan untuk memahami pentingnya ketepatan komposisi bahan, teknik pengolahan adonan, serta konsistensi tekstur dan cita rasa produk. Aspek tersebut menjadi perhatian penting dalam pengembangan makanan beku agar kualitas produk dapat dipertahankan ketika diproduksi dan dipasarkan.
Sementara itu, pada praktik pembuatan pempek, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pengolahan bahan, pembentukan produk, serta pentingnya menjaga standar kualitas dalam menghasilkan makanan yang memiliki cita rasa dan karakteristik yang konsisten.
Selain keterampilan produksi, pelatihan juga menekankan pentingnya estetika penyajian atau plating. Peserta diperkenalkan dengan pendekatan penyajian makanan yang menarik sehingga produk tidak hanya memiliki kualitas rasa yang baik, tetapi juga mampu meningkatkan daya tarik konsumen.
Pengembangan produk makanan beku menjadi salah satu peluang usaha yang potensial bagi mahasiswa dan alumni karena menawarkan kepraktisan bagi konsumen serta memungkinkan pengembangan model bisnis yang lebih fleksibel.
Namun, pelaku usaha juga perlu memperhatikan standar kebersihan, keamanan pangan, pengemasan, penyimpanan pada suhu yang sesuai, serta pengendalian kualitas agar produk tetap aman dan layak dikonsumsi.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan inovasi produk berbasis makanan tradisional menjadi produk kuliner modern yang praktis, memiliki nilai tambah, serta berpotensi dipasarkan melalui berbagai saluran penjualan.
Kepala Subdirektorat Kewirausahaan USK, Dr. Evi Ramadhani, M.Si., menyampaikan apresiasi atas semangat dan antusiasme para mahasiswa serta alumni yang terus mengikuti rangkaian Program Bina Kuliner Nusantara 2026 hingga memasuki tahapan praktik pengolahan makanan beku.
“Kami sangat mengapresiasi semangat dan kesungguhan para peserta yang terus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Bina Kuliner Nusantara 2026. Setelah mendapatkan berbagai pembekalan tentang manajemen bisnis, pemasaran, keuangan, negosiasi, hingga praktik memasak dan pembuatan minuman, hari ini mahasiswa kembali memperoleh keterampilan baru dalam mengembangkan produk frozen food. Kami berharap keterampilan ini dapat menjadi peluang usaha baru sekaligus meningkatkan variasi produk yang ditawarkan oleh UMKM mahasiswa,” ujar Evi.
Menurutnya, pelatihan yang berorientasi pada praktik langsung merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam mengembangkan usaha yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki standar kualitas yang baik.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu membuat produk makanan, tetapi juga memahami bagaimana menghasilkan produk yang konsisten, memiliki daya tarik, serta berpotensi dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar. Produk frozen food seperti tekwan dan pempek memiliki peluang pasar yang menarik apabila dikelola secara profesional, mulai dari proses produksi, pengemasan, penentuan harga, hingga pemasarannya,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Ir. Wira Dharma, S.Si., M.Si., M.P., IPM., menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada CCEP Indonesia atas komitmen serta dukungannya sebagai mitra strategis Universitas Syiah Kuala dalam pelaksanaan Program Bina Kuliner Nusantara 2026.
“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Coca-Cola Europacific Partners Indonesia atas dukungan dan kemitraan yang telah terjalin dengan Universitas Syiah Kuala. Program Bina Kuliner Nusantara memberikan kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa dan alumni untuk memperoleh pengetahuan serta keterampilan praktis dalam mengembangkan usaha kuliner. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi perguruan tinggi dan dunia industri dapat memberikan manfaat nyata bagi penguatan kewirausahaan generasi muda,” ungkap Wira.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan pembinaan kewirausahaan secara menyeluruh, mulai dari penguatan mental berwirausaha, strategi pemasaran digital, pengelolaan keuangan, komunikasi bisnis, hingga keterampilan teknis dalam menghasilkan produk kuliner.

“Kami ingin mahasiswa USK tidak hanya berani memulai usaha, tetapi juga memiliki kompetensi untuk mengelola, mempertahankan, dan mengembangkannya. Melalui praktik pengolahan frozen food ini, peserta mendapatkan tambahan keterampilan yang dapat diterapkan untuk menciptakan inovasi produk. Kami berharap ilmu yang diperoleh benar-benar dimanfaatkan sehingga usaha mahasiswa semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan ini juga disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH.
Menurutnya, Universitas Syiah Kuala terus berkomitmen membangun ekosistem kewirausahaan kampus yang mampu mendorong lahirnya wirausahawan muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan berdaya saing.
“Universitas Syiah Kuala mendukung penuh pelaksanaan Program Bina Kuliner Nusantara 2026 sebagai bagian dari komitmen kami dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan mahasiswa. Kami ingin mahasiswa dan alumni mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi, meningkatkan keterampilan, serta menciptakan inovasi produk yang memiliki nilai ekonomi. Pelatihan praktik seperti ini sangat penting karena memberikan pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha,” ujar Rina.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan produk kuliner harus memperhatikan aspek kualitas, keamanan pangan, inovasi, dan keberlanjutan bisnis agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
“Kami berharap mahasiswa dan alumni tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga mampu mengembangkan usaha yang profesional dan berkelanjutan. Produk makanan tradisional seperti tekwan dan pempek dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis dan memiliki jangkauan pasar lebih luas melalui inovasi pengolahan dan pengemasan. Inilah semangat kewirausahaan yang ingin terus kami bangun di Universitas Syiah Kuala,” tambahnya.
Pelatihan Hands-On Cooking Frozen Food merupakan kelanjutan dari rangkaian pembinaan Program Bina Kuliner Nusantara 2026 yang telah berlangsung sejak 16 Oktober 2026. Pada tahap awal, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penguatan mental kewirausahaan, strategi pemasaran, serta validasi keunggulan produk berdasarkan analisis kompetitor dan segmentasi pasar.
Selanjutnya, peserta mengikuti pelatihan akselerasi digital yang berfokus pada fotografi dan videografi produk menggunakan smartphone, desain poster, digital branding, serta pembuatan konten kreatif untuk kebutuhan pemasaran. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penguatan manajemen usaha, meliputi literasi keuangan, perhitungan biaya produksi (food costing), strategi penetapan harga, pengelolaan hubungan pelanggan, dan pencatatan keuangan berbasis aplikasi.
Pada tahap berikutnya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemasaran digital melalui optimalisasi media sosial, content marketing, pemanfaatan marketplace, iklan digital, serta evaluasi kinerja pemasaran. Pembinaan juga mencakup peningkatan keterampilan komunikasi profesional, strategi negosiasi bisnis, dan penyelesaian konflik melalui simulasi serta studi kasus.
Memasuki tahapan praktik pada Senin (26/10/2026), peserta mengikuti kegiatan Hands-On Cooking dan Estetika Produk Kuliner bersama Chef Ridwan Chery, Executive Chef Hermes Palace Hotel, yang membahas pengembangan cita rasa, standardisasi resep, teknik pengolahan dasar, serta estetika penyajian makanan. Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti kegiatan Hands-On Cooking Beverage bersama Yuli Heirina Hamid, S.Pd., M.Si., melalui praktik pembuatan empat menu minuman kreatif, yaitu Es Cocomelasi, Pinapaya Milky, Grape Jelly Bliss, dan Milkshake Es Dawet Fusion.
Selanjutnya, pada Selasa (27/10/2026), pembinaan difokuskan pada pengembangan produk makanan beku melalui praktik pembuatan tekwan dan pempek bersama Dra. Zuraini Mahyiddin, M.Pd. Kegiatan ini memberikan tambahan wawasan mengenai potensi pengembangan makanan tradisional menjadi produk frozen food yang memiliki nilai ekonomi, sekaligus memperluas pilihan inovasi produk yang dapat dikembangkan mahasiswa dan alumni dalam usaha kuliner mereka.
Melalui rangkaian pelatihan yang terintegrasi tersebut, Program Bina Kuliner Nusantara 2026 diharapkan mampu melahirkan wirausahawan muda USK yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial dan pemasaran, tetapi juga kompetensi teknis dalam menghasilkan produk makanan dan minuman yang berkualitas, inovatif, serta berdaya saing.
Kolaborasi Universitas Syiah Kuala dan CCEP Indonesia ini sekaligus mempertegas pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat kewirausahaan mahasiswa dan alumni, serta mendorong pertumbuhan UMKM kuliner dan ekonomi kreatif di Aceh.
Berita Terkait
USK dan CCEP Indonesia Latih Wirausahawan Muda Ciptakan Minuman Kreatif melalui Hands-On Cooking Beverage
27 Oct 2026
USK dan CCEP Indonesia Tingkatkan Keterampilan Memasak dan Estetika Produk Kuliner Mahasiswa melalui Hands-On Cooking Bina Kuliner Nusantara 2026
26 Oct 2026
USK Tanam Mangrove di Lampulo dalam Rangka Road to Jejak FISIP 6
26 Oct 2026
USK Lepas Volunteer Jejak FISIP untuk Melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di Takengon
23 Oct 2026