Loading...

Post

Pelatihan Peningkatan Keterampilan Negosiasi bagi mahasiswa dan alumni Universitas Syiah Kuala dalam Program Bina Kuliner Nusantara 2026 bersama CCEP Indonesia.
23 October 2026 admin Kegiatan

USK dan CCEP Indonesia Perkuat Keterampilan Negosiasi Wirausahawan Muda, Bina Kuliner Nusantara 2026 Masuki Pelatihan Hari Kelima

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia kembali melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas kewirausahaan mahasiswa melalui Pelatihan Peningkatan Keterampilan Negosiasi Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Bina Kuliner Nusantara 2026 yang kini memasuki hari kelima pelatihan bagi mahasiswa dan alumni muda USK yang mengembangkan usaha di sektor kuliner.

Pelatihan yang mengusung fokus pada komunikasi profesional, strategi negosiasi, dan penyelesaian konflik tersebut berlangsung di Ruang Kewirausahaan Lantai 2, Gedung Flamboyan AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan terhadap 40 peserta Program Bina Kuliner Nusantara 2026, yang terdiri atas mahasiswa aktif dan alumni USK dengan masa kelulusan kurang dari satu tahun yang menjalankan usaha di bidang makanan dan minuman (food and beverage/F&B).

Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni Dosi Elfian, Founder Doselfian Smart Speaking, serta Khoirul Amri, S.E., M.E., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Kedua narasumber memberikan pembekalan mengenai pentingnya keterampilan komunikasi dan negosiasi dalam membangun hubungan bisnis, menghadapi pelanggan, menjalin kerja sama dengan pemasok, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang berpotensi muncul dalam pengelolaan usaha kuliner.

Materi pelatihan mencakup tiga fokus utama, yaitu Fundamental Negosiasi Usaha Kuliner: Membangun Mindset dan Komunikasi Negosiator, Strategi dan Teknik Negosiasi Usaha Kuliner: Membangun Kesepakatan yang Efektif, serta Simulasi Negosiasi dan Penyelesaian Konflik dalam Situasi Nyata.

Melalui penguatan fundamental negosiasi, peserta diperkenalkan dengan pentingnya membangun pola pikir yang tepat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan komunikasi yang profesional ketika berhadapan dengan berbagai pihak dalam aktivitas bisnis.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai teknik menyampaikan penawaran, mengidentifikasi kepentingan mitra bisnis, membangun argumentasi yang meyakinkan, serta merumuskan kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Dalam konteks usaha kuliner, keterampilan negosiasi menjadi sangat penting karena pelaku UMKM harus berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemasok bahan baku, distributor, reseller, mitra usaha, hingga konsumen.

Kemampuan bernegosiasi secara efektif dapat membantu pelaku usaha memperoleh harga bahan baku yang lebih kompetitif, membangun kemitraan yang saling menguntungkan, menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha.

Selain pemaparan materi, peserta juga mengikuti simulasi negosiasi dan penyelesaian konflik melalui pendekatan interaktif, studi kasus, dan role play. Metode ini dirancang untuk membantu peserta memahami berbagai situasi bisnis yang berpotensi mereka hadapi dalam menjalankan usaha.

Kepala Subdirektorat Kewirausahaan USK, Dr. Evi Ramadhani, M.Si., menyampaikan apresiasi atas semangat dan konsistensi para peserta yang terus menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan Program Bina Kuliner Nusantara 2026.

“Kami sangat mengapresiasi semangat dan kesungguhan mahasiswa serta alumni yang telah mengikuti rangkaian pelatihan hingga hari kelima. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen kuat untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan mengembangkan usaha yang sedang dirintis. Semangat seperti inilah yang menjadi modal penting dalam membangun wirausahawan muda yang tangguh dan berdaya saing,” ujar Evi.

Menurutnya, keterampilan negosiasi merupakan salah satu kemampuan mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap wirausahawan, terutama dalam membangun jejaring bisnis dan menghadapi persaingan usaha.

“Selama ini, mahasiswa mungkin lebih banyak berfokus pada bagaimana menghasilkan produk yang baik dan memasarkannya. Padahal, kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi juga sangat menentukan keberhasilan usaha. Melalui pelatihan ini, kami ingin peserta memiliki kepercayaan diri untuk menjalin kerja sama, bernegosiasi dengan pemasok, menghadapi pelanggan, dan menyelesaikan konflik bisnis secara profesional,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Ir. Wira Dharma, S.Si., M.Si., M.P., IPM., menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada CCEP Indonesia atas komitmen dan dukungannya sebagai mitra strategis Universitas Syiah Kuala dalam pelaksanaan Program Bina Kuliner Nusantara 2026.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Coca-Cola Europacific Partners Indonesia atas dukungan dan kolaborasi yang telah terjalin dengan Universitas Syiah Kuala. Program Bina Kuliner Nusantara merupakan bentuk nyata kemitraan perguruan tinggi dan dunia industri dalam mempersiapkan mahasiswa dan alumni menjadi wirausahawan yang memiliki kompetensi bisnis secara menyeluruh,” ungkap Wira.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian pelatihan yang dilaksanakan selama lima hari telah memberikan berbagai keterampilan yang saling melengkapi bagi peserta, mulai dari penguatan mental kewirausahaan, pengembangan pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga keterampilan komunikasi dan negosiasi bisnis.

“Kami ingin mahasiswa USK tidak hanya mampu menciptakan produk dan memulai usaha, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola bisnis secara profesional. Penguasaan pemasaran, keuangan, komunikasi, dan negosiasi merupakan bekal penting agar usaha yang mereka rintis mampu bertahan, berkembang, dan memiliki daya saing. Kami berharap kemitraan bersama CCEP Indonesia dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi pengembangan kewirausahaan mahasiswa,” tambahnya.

Dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut juga disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH.

Ia menegaskan bahwa Universitas Syiah Kuala terus berkomitmen memperkuat ekosistem kewirausahaan kampus melalui berbagai program pembinaan yang berorientasi pada peningkatan keterampilan praktis, pengembangan karakter kewirausahaan, serta kolaborasi dengan dunia industri.

“Universitas Syiah Kuala mendukung penuh Program Bina Kuliner Nusantara 2026 sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem kewirausahaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan. Kami ingin mahasiswa dan alumni USK tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis, kepercayaan diri, dan kemampuan membangun hubungan profesional yang dibutuhkan untuk menjadi wirausahawan sukses,” ujar Rina.

Menurutnya, kemampuan negosiasi dan komunikasi bisnis menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter wirausahawan yang profesional, adaptif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan dunia usaha.

“Seorang wirausahawan harus mampu membangun komunikasi yang baik, menciptakan kepercayaan, menjalin kemitraan, serta menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Karena itu, pelatihan negosiasi ini sangat relevan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dinamika dunia bisnis. Kami berharap seluruh peserta dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh untuk memperkuat usaha mereka dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambahnya.

Pelatihan peningkatan keterampilan negosiasi ini melengkapi rangkaian pembinaan yang telah dilaksanakan dalam Program Bina Kuliner Nusantara 2026.

Pada Jumat (16/10/2026), peserta mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas SDM wirausaha kuliner yang membahas mental kewirausahaan, strategi pemasaran, serta validasi keunggulan produk melalui analisis kompetitor dan segmentasi pasar.

Selanjutnya, pada Senin (19/10/2026), peserta memperoleh pembekalan melalui Pelatihan Akselerasi Digital yang berfokus pada fotografi dan videografi produk menggunakan smartphone, desain poster, digital branding, pembuatan konten kreatif, serta pengembangan portofolio usaha.

Pada Selasa (20/10/2026), kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan keterampilan pengelolaan usaha, meliputi penilaian mandiri UMKM, literasi keuangan, perhitungan biaya produksi (food costing), strategi penetapan harga, pengelolaan hubungan pelanggan, serta pencatatan keuangan berbasis aplikasi.

Sementara itu, pada Rabu (21/10/2026), peserta mendapatkan penguatan pemasaran digital yang mencakup fundamental digital marketing, optimalisasi media sosial, content marketing, pemanfaatan marketplace, iklan digital, serta evaluasi kinerja pemasaran.

Memasuki hari kelima pada Kamis (22/10/2026), pembinaan difokuskan pada penguatan keterampilan negosiasi, komunikasi profesional, serta kemampuan menyelesaikan konflik bisnis sebagai bekal peserta dalam membangun dan mengembangkan kerja sama usaha.

Melalui rangkaian pelatihan yang terintegrasi tersebut, Program Bina Kuliner Nusantara 2026 diharapkan mampu menghasilkan wirausahawan muda USK yang tidak hanya unggul dalam inovasi produk dan pemasaran, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, literasi keuangan, keterampilan komunikasi, serta kompetensi negosiasi yang baik.

Kolaborasi Universitas Syiah Kuala dan CCEP Indonesia ini sekaligus mempertegas pentingnya sinergi perguruan tinggi dan dunia industri dalam mendorong pemberdayaan ekonomi generasi muda, memperkuat daya saing UMKM kuliner mahasiswa dan alumni, serta mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif dan penciptaan lapangan kerja di Aceh.

Bagikan: